Locations of Site Visitors

Kamis, 25 Juni 2009

KULIAH UMUM "SASTRA REMAJA"

ASPEK PRODUKSI PADA SASTRA REMAJA”


Selasa, 9 Juni 2009

Teater Lantai 3

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Pembicara : 1. Kukuh Achdiat S (Editor Desk Popular di Penerbit Puspa Swara)

2. Novi Diah Haryanti (Penulis)



  • Sastra Remaja : Antara Ideologi, Produksi, dan Globalisasi

Oleh : Kukuh Achdiat S


Jumlah remaja yang mencapai 36 juta jiwa menjadi pasar potensial bagi segala macam produk, khususnya di dalam dunia sastra atau lebih tepatnya tulis menulis. Hingga akhirnya ada unsur saling menguntungkan bagi penerbit dan penulis.

Seperti yang di katakan oleh Kukuh mengutip dari tulisan atau buku seorang pemerhati remaja dari Inggris, Allisa Quart, menyatakan bahwa dunia remaja di abad ke-21 adalah sebuah dunia yang dibentuk oleh media. Para remaja akan dikenal bukan karena kebebasan dan kekuatan hidup mereka, melainkan karena gairah mereka untuk menjerumuskan diri mereka sendiri. Hal ini terjadi karena ulah berbagai produsen dalam menciptakan ruang-ruang pasar bagi remaja.

Fenomena sastra remaja di Indonesia yang kini disebut teenlit dan chiklit tidak terlepas dari aspek pelabelan dan ideologi merek sistem kapitalisme. Mereka menulis di bawah bayang-bayang pencarian identitas dan citra diri.

Bagi produsen, mencetak buku-buku semacam teenlit dan chiklit memang lebih menguntungkan dibanding buku lain. Dengan ongkos produksi yang minimal, keuntungan yang diperoleh sangat maksimal. Karena genre tersebut sedang tren dengan temanya yang cocok dengan mereka (remaja).

Ada rumusan umum yang biasa dipakai oleh penerbit atau produsen ketika akan mengeluarkan produk. Biasanya disebut STP4P (segmentation, targeting, positioning, price, product, place, and promotion). Berdasarkan hak inilah karya sastra remaja sebagai sebuah tema besar biasanya diputuskan untuk terbit.


  • Duduk dan Menulislah

Oleh : Novi Diah Haryanti


Duduk dan Menulislah” ini merupakan kutipan dari tulisan yang ada di ruang redaksi pers mahasiswa saat Novi menjadi bagian dari redaktur pers mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ia terpengaruh oleh kutipan tersebut karena menurutnya menulis seakan-akan menjadi simpel dan mudah yaitu sediakanlah waktu untuk duduk, berpikir, dan mulailah menulis. Novi percaya bahwa menulis bukan soal bakat atau tidak bakat, tapi soal bagaimana kita melatih kemampuan menulis dan mengasah pancaindera. Menurutnya menulis harus dengan hati, yaitu menulis dengan berbagai hal yang kita sukai dan membuat kita tertarik. Jangan menulis sesuatu yang tidak kita kuasai, hanya ingin dianggap “keren”. Cobalah menulis dengan style atau gaya kita sendiri.

Menurutnya selain kita membiasakan diri untuk menulis, hendaknya kita juga perlu belajar atau berguru pada para penulis besar dengan membaca karya-karyanya. Dengan begitu kita dapat belajar bagaimana mereka menulis, mengungkapkan ide, menggunakan pilihan kata, bahkan mempelajari gayanya.

Novi sangat menggandrungi menulis sejak ia SD ia terbiasa menulis buku harian. Sehingga pada saat di SMP dan SMA, Novi menulis cerpen dan puisi untuk mading dan majalah sekolah, memasuki dunia kampus ia memilih bergabung dengan lembaga pers mahasiswa. Tidak sampai di situ, ternyata selepas ia menamatkan kuliah S1-nya di UNJ, ia terjun ke dunia jurnalistik profesional.

Novel pertamanya, My Lullaby (2006). Menurutnya tidak mudah untuk menjadi penulis remaja. Karena pada saat menulis ia sudah bukan lagi siswa SMA. Sehingga perlu waktu yang cukup lama bagi Novi mempersiapkan bahan dengan melakukan riset terhadap kehidupan remaja saat itu.






0 komentar: